Saat perjalanan menuju ke perkampungan Sinto di barat pulau, Lynx melihat pertarungan dari kejauhan. Setelah memperhatikan dengan seksama, Lynx melihat dua orang berpenampilan berbeda dengan penduduk di pulau tersebut sedang menghadapi makhluk mutasi seperti serigala. Lynx segera mempercepat larinya menuju tempat pertarungan.

Setelah mendekat, Lynx melihat salah satu dari mereka dalam bahaya, makluk itu akan membunuhnya jika tidak segera di tolong. Lynx segera menendang keras mahkluk itu hingga terlempar.

"Kalian baik-baik saja?" Tanya Lynx tanpa mengalihkan perhatiannya dari mahkluk itu.

Mochi berusaha bangun dan duduk, lalu dia memperhatikan pria di depannya. "Kami baik-baik saja. Berhati-hatilah, mahkluk itu sangat kuat dan cepat."

Lynx tidak berkata apa-apa. Dia langsung bergerak dan menyerang makhluk itu, gerakannya cepat seperti angin. Pukulan dan tendangannya menghantam tubuh makhluk itu lagi dengan keras, membuatnya terpental beberapa meter.

Mahkluk itu dengan cepat berdiri dan memandang Lynx dengan marah. Dia segera melompat dan menyerang Lynx.

Melihat serangan itu, Lynx segera menghindar dengan melompat ke samping. Lynx tidak memberi makhluk itu kesempatan untuk menyerang lagi, dia maju dengan cepat, melayangkan pukulan dan tendangan yang kuat. Gerakannya cepat dan penuh kekuatan, tetapi Lala memperhatikan bahwa beberapa serangannya terlihat tidak efisien, seolah terlalu banyak gerakan percuma.

"Kakek, lihat dia… begitu kuat," kata Lala dengan kagum, karena melihat Lynx mampu melawan dan menjatuhkan mahkluk itu.

Mochi yang masih duduk di tanah memperhatikan dengan seksama. Dia melihat bahwa meskipun Lynx kuat, gerakannya terlalu kaku. Setiap serangan dan gerakan menghindar yang dilakukan memiliki banyak gerakan percuma yang membuatnya tidak efisien.

Mochi, meski terluka, mengangguk perlahan. "Dia kuat, tapi kontrol tenaganya kurang. Dia bisa lebih efektif."

Lala juga memperhatikan, tetapi dia lebih kagum pada kecepatan dan kekuatan Lynx. "Kamu benar kakek, aku juga melihatnya seperti itu, tapi tetap saja dia kuat dan cepat. Dia seperti metahuman…" gumam Lala.

Lynx menggunakan momentum untuk melompat ke atas makhluk itu, menghantam punggungnya dengan siku. Makhluk itu meraung kesakitan, tetapi masih melawan dengan ganas. Cakarnya hampir mengenai Lynx, tetapi Lynx dengan gesit melompat mundur.

Lala memperhatikan lebih jauh. Meski fisik Lynx tidak besar dan kekar seperti pria-pria yang menyergap mereka saat bersama rombongan Kane, ada sesuatu yang menarik dari sosoknya. Tiba-tiba perhatian Lala teralihkan kepada cincin di tangannya yang terlihat tidak biasa, tampak tidak sesuai dengan penampilannya yang primitif.

"Aku merasa pernah melihat cincin itu," gumam Lala, tetapi dia menggeleng, mencoba fokus pada pertarungan.

Makhluk itu mencoba menyerang balik, tetapi Lynx menghindar dengan gesit. Dia melompat ke atas makhluk itu, menghantam punggungnya dengan siku, lalu meluncurkan tendangan keras ke kepalanya sehingga mahluk itu terlempar dan tubuhnya menabrak batang pohon.

Lynx tidak ingin mensia-siakan kesempatan, dia mengerahkan kekuatannya dan dengan pukulan terakhir, Lynx memukul dan menghancurkan kepala makhluk itu, membuatnya tergeletak tak bernyawa di tanah.

Lynx mendekati Lala dan Mochi yang masih duduk di tanah, kelelahan. "Kalian baik-baik saja?" Lynx mengulangi pertanyaannya dengan suara tenang.

"Terima kasih, berkat bantuanmu, kami bisa selamat," kata Mochi, meski nadanya masih hati-hati.

Lala menatap Lynx dengan mata berbinar. "Kau luar biasa… siapa kau?"

Lynx tersenyum tipis. "Aku Lynx. Aku hanya sedang lewat dan melihat kalian sedang dalam masalah."

Lynx kemudian mengeluarkan ramuan dari kantong kulitnya, mulai mengobati luka mereka. Namun, ketika Lynx memeriksa luka di pundak Lala, dia menyadari pakaian gadis itu robek-robek, memperlihatkan kulitnya.

Lala segera mencoba menutupi tubuhnya dengan bagian lain yang tersisa, wajahnya memerah. "Aku bisa mengurus diriku sendiri," katanya pelan.

Lynx tidak mempermasalahkan itu dan menyerahkan ramuan padanya. Mochi tetap mengamati Lynx, mencatat kekuatannya tetapi juga kelemahannya.

"Kau bukan orang biasa," kata Mochi akhirnya.

Lynx menganggukkan kepala tidak menjawab, hanya tersenyum kecil sebelum berdiri. "Makhluk seperti ini ada banyak di sekitar sini dan akan terus muncul. Kalian harus berhati-hati."

Mochi menganggukkan kepalanya. "Dia cucuku, namanya Lala. Sedangkan aku sendiri yang tua renta ini bernama Mochi." Kata Mochi mengenalkan dirinya dan cucunya kepada Lynx.

"Lala?" Batin Lynx, merasa tidak asing dengan nama itu namun Lynx tidak dapat mengingat dimana pernah mendengar nama tersebut.

Lala menatap cincin di tangan Lynx, merasa pernah melihatnya sebelumnya. Namun, dia menggeleng, berpikir itu mungkin hanya perasaannya.

Lala duduk bersandar di batang pohon, napasnya masih belum teratur setelah pertarungan sengit tadi. Pakaian robek-robeknya menutupi secuil rasa malunya saat Lynx menyerahkan ramuan yang dibuatnya. Mochi, meski terluka, tetap duduk tegak, matanya tajam menilai sosok pria yang baru saja menyelamatkan mereka. Lynx, dengan tubuh sederhana namun penuh aura misteri, mengambil posisi duduk di dekat mereka sambil membersihkan tangan dari darah makhluk mutasi tadi.

Lynx memecah keheningan dengan suara datar tapi terdengar penasaran, "Kalian bukan asli penduduk sini, kan?"

Lala dan Mochi saling bertukar pandang sejenak, ragu. Lala yang pertama berbicara, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Kenapa kamu berpikir begitu?"

Lynx menunjuk pakaian mereka. "Pakaian kalian berbeda dari yang biasa kupakai atau lihat di sini. Terlalu bersih, terlalu modern… tidak sesuai dengan keadaan di dunia ini."

"Kamu mengetahui tentang pakaian modern?" Tanya Lala penasaran dan bertanya dengan penuh harap."Apakah kamu pernah melihat orang yang berpakaian seperti kami?"

"Tidak. Aku hanya melihat dari model pakaian kalian yang terlihat sangat berbeda." Kata Lynx sambil berusaha menutupi kebohongannya. Dia tidak mengenal wanita di depannya. Lynx tidak ingin menambah masalah baru.

"Apakah Monrest memanggil mereka juga seperti kami? Apakah ritual mereka sudah berjalan?" Tanya Lynx didalam hati dengan rasa penasaran.

Mochi tersenyum tipis, mencoba mengalihkan perhatian Lynx. "Kami tidak sengaja terlempar ke sini… semacam kecelakaan. Kami bahkan tidak tahu bagaimana kami tiba di tempat ini."

Lynx mengangkat alis, wajahnya tidak menunjukkan emosi jelas. "Jadi, kalian baru tiba?"

"Iya," jawab Lala, mencoba membuat suaranya terdengar meyakinkan. "Kami tiba-tiba berada di sini. Dunia ini… sangat aneh bagi kami. Banyak hal yang belum kami mengerti, seperti makhluk mutasi itu. Apa sebenarnya itu?"

"Sepertinya kecurigaanku benar, mereka datang dengan cara yang sama dengan kedatanganku dan Leena. Tapi kenapa cucu dan kakeknya yang di panggil kali ini." Batin Lynx dengan rasa penasaran.

Lynx mendengarkan dengan tenang sebelum menjawab, "Makhluk mutasi seperti itu sudah lama ada di sini. Mereka adalah hasil dari sesuatu yang terjadi ratusan tahun lalu. Tidak ada yang benar-benar tahu pasti bagaimana mereka muncul, tapi mereka sekarang menjadi bagian dari dunia ini. Kita harus berhati-hati karena ada sebuah suku yang mencoba menjinakkan mereka dan memanfaatkan mereka sebagai senjata. Suku itu memiliki kemampuan untuk mengendalikan mereka."

Mochi mengangguk pelan, mencoba memahami. "Dan apa dunia ini memang seperti ini? Hutan-hutan yang penuh bahaya, suku-suku yang saling berperang?"

Lynx tersenyum kecil, sedikit getir. "Ya, penduduk dunia ini sebenarnya sangat ramah. Namum terdapat satu suku yang mendominasi dan berusaha menaklukkan suku-suku lainnya. Setiap suku di sini berjuang untuk bertahan hidup. Beberapa dari mereka membentuk aliansi, untuk bertahan hidup dan melindungi diri dari suku yang ingin menaklukkan mereka. Tapi di wilayah ini, semua itu tidak penting jika dibandingkan dengan ancaman makhluk-makhluk seperti itu," dia menunjuk ke tubuh makhluk mutasi yang tergeletak tak bernyawa di dekat mereka.

Lynx melanjutkan."Pulau ini entah bagaimana, terdiri dari dua bagian dimana satu bagian terdapat banyak makhluk mutasi dan bagian lainnya terdapat hewan-hewan biasa namun memiliki ukuran yang lebih besar."

"Berarti kami ada di bagian pulau yang penuh dengan makhluk mutasi?" Tanya Lala.

"Kamu benar. Disini tidak aman untuk kalian. Seharusnya kalian tidak berada di wilayah ini." Kata Lynx.

Lala menatap Lynx dan bertanya."Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di tempat ini jika memang berbahaya."

"Lala, tidak sopan menanyakan urusan orang lain. Apalagi dia penolong kita." Tegur Mochi.

